SEDIH! Intelektualitas Umat Islam Berjalan Ditempat - Otakcerdas

Otakcerdas

Proyeksi Media Generasi Millenial

Top Post Ad

Download Otakcerdas App

Monday, June 18, 2018

SEDIH! Intelektualitas Umat Islam Berjalan Ditempat

Kredit Image Otakcerdas Design Ulama Zaman Gold dan Zaman Now
Otakcerdas | Sahabat ocer yang berahklak mulia sebelumnya pada artikel kali ini kami segenap tim Media Informasi Otakcerdas mengucapkan Minal Aidzin wal faidzin. kami seluruh tim memberikan maaf kepada seluruh sahabat ocer dimanapun berada. dan pada kesempatan kali ini perlu kita evaluasi perkembangan umat islam selama ini terutama pasca bulan Ramadhan.

Seperti yang tertera pada judul artikel ini bahwa sebenarnya umat islam terutama umat islam Indonesia sebagian besar memiliki intelektualitas yang berjalan ditempat, artinya apa? artinya adalah keilmuwan umat islam tidak berkembang sesuai dengan keinginan Nabi kita  Muhammad Saw.

Kenapa bisa seperti itu? saya jelaskan singkat tentang naik turunnya perkembangan intelektualitas umat islam dari zaman kezaman, pertama dari zaman setelah khulafau rasyidin yaitu setelah jatuhnya kekuasaan kepada Bani Umayyah (Muawiyah I) yang ditandai dengan konflik perang saudara. dimana keilmuwan alquran di zaman ini dikaji hanya sebagai sesuatu yang tersurat bukan tersirat.

Beruntunglah Kekhalifahan Umayyah runtuh pada tahun 750. karena pada tahun itu kekuasaan Bani Umayyah jatuh ke tangan Kekhalifahan Abbasiyah yang berada pada genggaman  bani abbasiyah. Kekhalifahan Abbasiyah adalah khekhalifahan kedua umat islam yang berkuasa di baghdad, pada masa kekhalifahan ini perkembangan ilmu pengetahuan sangat maju.

Bukan hanya ilmu pengetahuan tentang islam saja, namun pada salah satunya masa kepemimpinan Khalifah Harun Al-Rasyid ini, para pemikir islam menerapkan ilmu Al-Quran ke dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. sehingga pada zaman kekhalifahan Abbasiyah, Islam menjadi pusat studi pengetahuan dunia, dikenal sebagai masa keemasan Islam (The Golden Age of Islam)

Di zaman itu pula teori pengetahuan tentang ilmu kedokteran, ilmu astronomi, dan teknologi seperti asal mula algoritma dan logika komputer ditemukan. Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi.

Lalu mengapa mengapa Islam dizaman sekarang tidak seperti zaman itu lagi? alasanya karena zaman setelah kekhalifahan  Bani Abbasiyah. dizaman setelahnya, Alquran tidak digunakan lagi seperti para pemikir islam pendahulunya. keterpurukan islam dimulai ketika Alquran hanya dipelajari disampulnya saja. umat islam hanya belajar membaca dan mengahafal alquran, namun tidak mengkaji, berkarya, mengevaluasi penemuan, dan menemukan solusi dari permasalahan tentang Ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada berdasarkan Alquran.

Hingga akhirnya terjadilah seperti zaman kita hidup saat ini, dimana orang yang mempu menghafal alquran 30 juz sangat di agung-agungkan, padahal kalau dilihat dari skala kurikulum pendidikan nasional saja, yang namanya kemampuan mengahfal itu berada pada tingkat taman kanak atau sekolah dasar. yang artinya puncak intelektualitas umat islam saat ini sebagian besar hanya setara dengan anak TK atau SD.


Hanya sebagian kecil yang memiliki intelektualitas tinggi setara dengan akademisi kampus. bukan sekolahnya yang rendah, namun cara berfikirnya yang tidak mau maju. karena tingkatan penerapan ilmu pengetahuan secara runtun adalah Belajar Membaca, kemudian Menghafal, lalu dilanjutkan dengan Mengkaji, lalu Menemukan Permasalahan dan mencarikan solusi. terakhir Mengevaluasi dari penemuan solusi yang sudah dilakukan.

Dari tingkatan diatas apabila kamu sebagai umat islam beranggapan bahwa orang yang mampu menghafal alquran 30 juz sebagai manusia yang istimewa (biasanya da'i menjulukinya orang yang akan selamat 7 turunan) maka berarti kamu masih pada tingkat 2 pada tingkatan intelektualitas pengetahuan seorang manusia.

Jika sebagian besar umat islam memiliki intelektualitas yang berada pada tingkat 2, lalu siapa yang menjalankan tingkatan 3 sampai 5? adalah orang-orang Atheis dan Yahudi. karena pada tingkatan 3 sampai 5 adalah tingkatan yang diharapkan oleh Nabi Muhammad Saw, yaitu Rahmatan Lil 'Alamin, bermanfaat bagi seluruh alam.

Mengapa yang mengamalkan Rahmatan lil 'alamin adalah Yahudi dan Atheisi? Lihat saja sekarang orang yahudi Mark Zukkerberg menemukan facebook, berkat penemuanya itu kita bisa memanfaatkan facebook untuk bersosialisasi dengan teman, bahkan antar Ustadz, habaib, kyai. contoh lain adalah tentang mesin pencari Google yang ditemukan oleh Larry Page, berkat penemuanya itu sekarang kita bisa memanfaatkan penemuanya untuk segala macam hal, bahkan jika kamu ingin melihat tuhan pun disana ada. kamu bisa melihat segala macam tuhan di mesin pencari google.

Lalu bagaiamana supaya umat islam menemukan kembali kejayaanya? satu-satunya cara supaya umat islam kembali berjaya dalam hal ilmu pengetahuan adalah mengembalikan konsep tingkatan dari yang awalnya hanya dari tingkat 1 sampai 2, diubah menjadi dari tingkat 1 sampai dengan 5. sehingga umat islam dapat kembali menerapkan Alquran untuk rahmatan lil 'alamin yang sesungguhnya.

Apakah bisa? tentu saja bisa, karena Alquran adalah milik kita, kenapa selama ini kita hanya belajar membaca dan mengahafal Alquran saja? kenapa kita tidak menerapkan konsep pengetahuan Alquran ke dalam masing-masing bidang studi kita? selama ini yang mempelajari alquran secara mendalam hanya orang-orang yang berada di jurusan islam, namun diluar itu hanya berfokus pada bidang masing-masing, tetapi tidak ada tindak lanjut secara intensif dalam perkembanganya.

Selama ini yang mengkaji Alquran secara mendalam adalah orang-orang Atheis, mereka mengkaji pengetahuan dari berbagai kitab dari seluruh keyakinan didunia, mereka mencari pengetahuan masa lalu yang tertulis didalamnya, dikaji secara mendalam kemudian dijadikan pemecah permasalahan di zaman sekarang, lalu ketika orang-orang Atheis berlomba-lomba mempelajari Alquran secara tersirat, disini kita hanya belajar membaca dan menghafal Alquran secara tersurat. bagaimana mau maju?

Kita sebagai umat islam, belajarlah Alquran secara mendalam, tidak hanya secara tersurat tetapi secara tersirat, sehingga kita tahu apa saja yang terkandung di dalam Alquran. dan juga berhati-hati dalam mencari guru dalam mengkaji al-quran, bisa-bisa kamu hanya mempelajari sesuatu hal yang tidak bermanfaat bagi seluruh alam. 

Carilah guru yang benar-benar mengetahui ilmu untuk membedah Al-Quran seperti Ilmu Mantiq, Nahwu, Shorof, Balaghoh, Bayan dll. karena dengan ilmu itu, kita bisa menerapkan pengetahuan yang ada didalam Alquran ke dalam bidang yang kita miliki. sehingga kita tidak menjadi orang yang bersumbu pendek, baru hafal Al-quran saja seperti sudah menjadi wali tuhan yang dijamin masuk surga dan ketika mati bakal berada di sisinya (entah sisi kanan atau sisi kiri).

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Download Otakcerdas App